Senin, 13 Mei 2013

Ujian Kompetensi Guru (UKG)

Ujian Kompetensi Guru (UKG) telah dilaksanakan, mudah-mudahan menyadarkan semua pihak:
1. Teman-teman guru menyadari, bahwa kapasitas dan kemampuan mereka dituntut untuk terus ditingkatkan, karena tantangan pendidikan pun terus berkembang, sementara dia dituntut untuk memberikan "bekal" bagi peserta didik menghadapi masa depannya. Jika tidak, maka dia harus sadar bahwa "dosa besar" menyia-nyiakan masa depan generasi bangsa... dan artinya memiliki andil besar atas maju-mundurnya suatu bangsa.
2. Para pemangku kebijakan, bahwa pendidikan, bukan "lahan proyek", tetapi infestasi untuk masa depan bangsa... Apalgi kalau hanya dijadikan pemenuhan kepentingan politik..., sehingga, program yang dilakukan, betul-betul dilakukan untuk memenuhi tuntutan kebutuhan pendidikan yang tepat dan benar... Artinya, hasil UKG, mudah-mudahan menjadi dasar kebijakan untuk memperbaiki kesalahan yang selama ini dilakukan.
3. Stakeholder Pendidikan menyadari, bahwa tanggungjawab memajukan dan memperbaiki mutu dan kualitas pendidikan, adalah tanggung jawab bersama, bukan hanya pada sekolah (guru, KS, PS), serta bukan hanya pada pihak pemerintah...

Ujian Nasional (UN) dan Perbaikan mutu pendidikan

Dalam diskusi di JLC-TVOne tadi malam, JK mencoba menjelaskan dan meyakinkan kepada peserta Diskusi dan Pemirsa, tentang filosofi pelaksanaan Ujian Nasional...
Ada beberapa catatan yang menarik untuk disimak:
1. Mungkin benar, kita memerlukan ukuran yang dibuat berstandar, termasuk ukuran tingkat kemampuan siswa (i) kita. Tetapi masalahnya adalah, ukuran tingkat kemampuan yang "berstandar tersebut diberikan kepada sekolah yang belum memiliki standarisasi pelayanan (standar proses; standar pendidik dan tenaga kependidikan;. standar sarana dan prasarana; standar pengelolaan; standar pembiayaan;dan
standar penilaian pendidikan) yang baik... pada hal standar kelulusan, mestinya menjadi muara dari terlaksananya standar pendidikan yang lainnya.
2. Karena negera ingin disebut berhasil dalam mengelola dan meningkat layanan pendidikannya, maka standar kelulusan dibuat meningkat setiap tahun... pada hal faktanya, pemenuhan standar layanan lainnya tidak pernah dibuat meningkat.
3. Benar bahwa negara-negara maju dalam pendidikannya, memiliki konsep Ujian Nasional (UN), termasuk Amerika yang disebut pak JK..., tetapi beliau tidak meninformasikan, bahwa pelaksanaan UN di Amerika itu dilakukan oleh masing-masing negara bagian untuk mengukur aspek-aspek mana saja yang masih dianggap lema dalam layanan pendidikan, lalu menjadi perhatian untuk meperbaikinya... Kita cenderung mencontoh pelaksanaan UN-nya saja, tetapi tidak mengambil filosofi dan tujuan pelaksanaan UN tersebut.
4. Bahwa kita butuh generasi (siswa) yang cerdas..., tetapi makna kecerdasan itu ternyata hanya dilihat dari aspek Logic-Matematik dan Linguistik... Kecerdasan lain yang dimiliki oleh manusia (anak didik) diluar dari dua model kecerdasan tersebut, diabaikan... pada hal dalam berbagai teori dijelaskan berbagai macam kecerdasan manusia, yang mungkin saja lemah dari beberapa aspek, tetapi menonjol dari aspek lain.. dan ini adalah bentuk dari diskriminasi...
5. Bahwa hasil UN menjadi alat penentu kelulusan (sekarang ini prosentasinya diturunkan menjadi 60 %), menjadikan UN sebagai barang yang ditakuti oleh sisiwa, sehingga mereka menjadi tertekan dan khawatir..., dan ini adalah bentuk dari kekerasan yang dilakukan secara sistematis...
6. Model soal pilihan ganda....!!! Seorang anak (siswa), mungkin saja bisa menjawab dengan benar, tetapi dia sebenarnya tidak tahu... dia hanya menebak-nebak, dan tebakannya benar... Jika dijadikan bahan analisis, soal apa yang banyak anak tahu atau anak banyak tidak tahu..., maka hasilnya tidak akan bisa menggambarkan kondisi yang sebenarnya... karena Tebak-tebakan....
7. Tentu kita belum bicara tentang kebijakan pelaksanaannya, dst...

Ini catatan saya dari mengikuti Diskusi di JLC tadi malam.....

Jumat, 25 Januari 2013

Bukti Dahsyatnya Silaturahim


REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA--Pentingnya berkomunikasi atau silaturahim, dijelaskan Prof H Deddy Mulyana MA Ph D, Dekan Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran Bandung. Prof Deddy kemudian mengungkapkan beberapa contoh hasil penelitian.

Pada abad ke-13, Penguasa Sicilia melakukan percobaan dengan memasukkan sejumlah bayi ke labotatorium. Bayi-bayi itu dimandikan dan disusui oleh ibu-ibu mereka, tapi tidak diajak bicara. Akibatnya sangat mengejutkan. Semua bayi dalam percobaan itu mati.

Tahun 1915, seorang dokter di Rumah Sakit John Hopskin menemukan 90 persen dari semua bayi di Panti Asuhan Baltimore, Maryland, meninggal dalam satu tahun. Tahun 1944, seorang psikolog menemukan 34 dari 91 anak panti asuhan yang diamatinya juga meninggal.

Menurut Prof Deddy, korelasi positif antara komunikasi yang efektif (tulus, hangat dan akrab) dengan usia panjang juga telah didukung oleh penelitian terbaru yang dilakukan Michael Babyak dari Universitas Duke dan beberapa rekannya dari beberapa universitas di Amerika Serikat.

Lewat penelitian yang melibatkan 750 orang kulit putih dari kelas menengah sebagai sampel dan memakan waktu 22 tahun, para peneliti menemukan orang-orang yang berkomunikasi kurang efektif (tidak suka berteman, memusuhi dan mendominasi pembicaraan) berpeluang 60 persen lebih tinggi menemui kematian pada usia dini dibanding orang-orang yang berperilaku sebaliknya (ramah, suka berteman, berbicara tenang).
Bahkan, pelaku penembakan yang dilakukan seorang mahasiswa S3 di sebuah perguruan tinggi di Amerika Serikat yang menewaskan banyak orang tahun lalu, kata Deddy, berlatarbelakang orang tua yang tidak suka bergaul.
Ia menjelaskan, tidak sulit menduga watak tertentu menimbulkan respons tubuh tertentu pula. Misalnya, kita bisa melihat reaksi tubuh bagian luar orang yang sedang marah: muka merah, mata melotot dan berwarna merah, badan gemetar, berkeringat, kulit menegang dan gigi bergemeletuk.

Dalam konteks ini, sambung Deddy, Babyak dan kawan-kawannya menduga, orang-orang dari golongan pertama secara kronis lebih cepat dibangkitkan dan  terkena stres. Hal itu membuat mereka menghasilkan lebih banyak hormon stres yangg merugikan dan lebih berisiko terkena penyakit jantung.

Semua hasil penelitian di atas, kata Deddy Mulyana, sebenarnya memperkuat hadis Nabi Muhammad saw yang diriwayatkan Muslim, Bukhari dan Abu Dawudyang artinya, ''Barang siapa yang senang untuk dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung (tali) silaturahim.''

Yang menarik, kata dia, teori silaturahim atau berkomunikasi ini sudah diungkapkan sang ilmuwan sejati, Nabi Muhammad saw, 14 abad yang lalu. ''Berbahagialah orang yang senang bersilaturahim,'' jelas Deddy pada Launching dan Bedah Buku 'Berhenti Kerja Semakin Kaya' di Jakarta Rabu (23/1) malam.