Jumat, 19 Juni 2015

Puasa: Ibadah Kemakhlukan

Puasa (shoum) dalam ajaran Islam berarti menahan diri dari segala sesuatu yang membatalkan. Puasa merupakan usaha sungguh-sungguh  untuk menahan diri dari syahwat lahiriah, makan, minum, hubungan seksual, sekalipun suami istri dan sesuatu yang bersifat indrawi dan dari syahwat yang bersifat rohaniah. Dengan demikian puasa adalah  suatu kegiatan untuk menahan lapar, haus dan syahwat dari fajar hingga magrib. Inti puasa adalah pengingkaran jasmani dan rohani secara sukarela dari sebagian kebutuhan yang menyenangan dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah.
Puasa tidak hanya dimonopoli umat manusia. Beberapa makhluk hidup lainnya dalam fase tertentu kehidupannya dijalani dengan puasa. Ada yang dilakukan secara terpaksa karena kekurangan makanan, atau kerasnya habitat hidup seperti musim panas dan musim dingin yang terlalu. Sebut saja, unta, ular, beruang kutub, ikan, jenis burung tertentu, serta beberapa hewan pengerat. Namun ada pula hewan berpuasa karena pilihan sendiri bukan terpaksa, mereka berpuasa dalam fase-fase tertentu, seperti serangga ketika berada dalam kepompong pada masa tertentu sampai fase baru dalam hidupnya selesai. Usai puasa, serangga memiliki kemampuan lebih dalam beradaptasi dengan habitatnya. Mari kita lihat beberapa contoh makhluk yang dekat dengan keseharian kita yang juga melakukan ibadah puasa:
Pertama, puasa Ular. Semua ular, ketika telah tiba saatnya, maka ia harus berpuasa karena dirinya sangat membutuhkannya untuk kelanjutan dan kelangsungan hidupnya. Kisaran waktu puasa mereka beraneka ragam. Sebagian ular puasa hingga 2 bulan dan sebagian yang lain bahkan ada yang hingga 3 bulan. Sesudah puasa, ular tetaplah ular, dengan sikap dan karakter yang tetap sama seperti sebelum puasa. tetap menjadi binatang buas yang ditakuti. tetap licin dan berbahaya. yang berubah hanyalah kulitnya yang baru. mungkin nampak lebih muda, dan gagah perkasa. Bagi ular, berpuasa semata-mata untuk menjaga struktur kulitnya agar tetap keras terlindung dari sengatan matahari dan duri-duri hingga ia tetap mampu melata di bumi. Ketika berpuasa ular tak punya nafsu makan, meskipun dihadapannya berbagai jenis makanan. Ular tidak tergoda untuk memakannya meskipun pada saat itu sedang dalam puncak kelaparan yang sangat luar biasa. Tetapi waspadalah setelah usai berpuasa, ular akan terlihat jahat dan buas. Bagi ular sendiri puasa itu adalah suatu yang positif karena akan membuatnya semakin ganas dan liar
Kedua, adalah puasanya ayam; ayam ketika mengerami telurnya, maka induk ayam berpuasa hingga sekitar 6-8 minggu, dia akan turun 1 kali dalam waktu 3 hari 3 malam untuk mendapatkan makanan ala-kadarnya. manfaatnya adalah agar telurnya menetas menjadi anak ayam. hikmah yang bisa kita ambil, puasanya ayam bermanfaat bagi diri dan keluarganya. Ketiga, adalah puasanya ulat. Ketika masih menjadi ulat, ia begitu dibenci oleh siapapun yang melihatnya karena tampilannya yang menjijikkan. keberadaannya adalah musibah bagi sekitarnya. ketika ia hinggap di daun, maka daun akan menjadi rusak. ketika ia di batang/ buah, maka batang/ buah pun akan menjadi rusak. di mana-mana ia selalu merusak.
namun setelah berpuasa dengan menjadi kepompong dan kemudian berubah menjadi kupu-kupu, subhanallaah, ia tidak lagi diperlakukan seperti ulat. tampilannya yang indah membuatnya begitu di suka oleh semua. keberadaanya tidak lagi menjadi musibah bahkan berbalik menjadi hikmah dan manfaah bagi yang lain. ketika hinggap di daun, ia membantu proses pembuahan pada tanaman.
Keempat, puasa Pohon dengan menggugurkan daun, setiap musim dalam satu tahun, pepohonan akan melakukan masa puasa, dan karena asupan gizi berkurang, maka dia menggugurkan daunnya. Tetapi setelah itu, kuncupnya akan tumbuk kembali, lalu mengeluarkan daun-daun yang hijau dan segar, yang pada akhirnya akan diikuti oleh bunga, sebagai cikal-bakal buah.
Selain binatang contoh di atas, binatang lain yang menjelankan ritual puasa, seperti ikan mujair, yang melakukan puasa untuk melindungi anaknya. Ketika sedang berpuasa, meskipun didepan mulutnya ada makanan, dia tahan seleranya. Jenis binatang lain yang suka berpuasa adalah burung, ada burung yang tetap tinggal disarangnya berhari-hari, malah berbulan-bulan tidak bergerak dan tidak makan. Ada pula burung yang tetap tinggal di sarangnya pada musim-musim tertentu setiap tahun, seperti burung elang sewaktu bertelur, mengerami telur dikala menjaga anaknya.
Demikian halnya dengan Beruang, Kelelawar, tikus, landak, katak, kadal, lalat, tawon, buaya, kepiting, siput, capung, ikan paus, ikan salmon, piquin, anjing laut, laba-laba. Kuda, sapi, anjing, kucing, gajah, biasanya berpuasa saat terserang suatu penyakit, hingga mereka sembuh. dan sebagainya.
Jika kita mencoba menelisik alasan makhluk-makhluk bumi tersebut berpuasa, maka ada beberapa alasan utama yang dapat disebutkan:
v  Melakukan efektifitas dan efisiensi kegiatan karena kelangkaan sumber makanan
v  berjuang menuju tempat yang tersedia sumber makanan
v  Meningkatkan kualitas sperma dan sel telur untuk menghasilkan generasi dan kehidupan yang lebih baik.
v  Menyempurnakan proses adaptasi terhadap dunia baru
v  Merefresh kembali kekuatan diri, agar menjadi makhluk baru
v  Keluar dari kondisi yang tidak baik, tidak sehat, menjadi makhluk yang lebih baik dan sehat.
Kalau dikaitkan dengan manusia sebagai bagian dari makhluk bumi di atas, maka ritual puasa yang dilakukan, tentu maknanya jauh lebih tinggi dari sekedar puasa yang diperoleh oleh makhluk-makhluk lain. Puasa hendaknya dijadikan media “Reformasi” diri dari hal-hal yang negatif kepada sesuatu yang lebih positif. Ada beberapa sasaran reformasi dari adanya puasa bagi manusia, diantaranya adalah:
Reformasi Spiritual kita mengalami peningkatan yang lebih baik dibanding sebelumnya. Dalam kontek reformasi spiritual ini pula kita semakin menyadari kehadiran Allah ditengah-tengah kita (Being Of God). Kemana-mana kita selalu dipantau oleh Allah, sehingga ketika hendak melakukan kejahatan kita urung untuk melakukannya.
Reformasi Emosional. Emosi kita yang suka marah-marah, cepat tersinggung, iri hati dan arogan semestinya bias kita kikis ketika puasa tiba. Kecerdasan emosional harus bisa kita tingkatkan. Tentunya, kecerdasan yang mengarah pada peningkatan energi emosi kita yang sangat positif. Pesimis, takut gagal, kurang percaya diri dan hal-hal negatif lainnya harus bisa kita tepis dengan adanya puasa ini.
Reformasi Intelektual. Tentu saja reformasi intelektual yang dimaksud adalah tidak hanya sebatas pada upaya yang sifatnya fisik seperti menambah supplemen kecerdasan otak dan lain sebagainya. Tapi juga aktivitas kita yang dapat menunjang pengetahuan kita bertambah itu harus ditingkatkan, seperti banyak membaca buku, melatih berfikir tentang kekuasaan Allah dan rajin belajar ilmu agama kepada ustadz atau kiayi. Ketiga reformasi itulah yang patut kita capai ketika datangnya puasa. Bila kita pahami lebih dalam tiga reformasi tadi, maka ada substansi yang bisa kita petik yaitu puasa harus bisa dijadikan reformasi kita menuju sesuatu yang lebih baik, menjadi makhluk yang berproses menuju insan yang bertaqwa (la allakum tattaqun).
Jika kita kembali mencoba belajar dari puasa ulat di atas, ulat melakukan puasa sebagai proses perubahan identitas, yaitu dari ulat menjadi kupu-kupu. Setelah berpuasa sekian lama, ulat berubah menjadi kepongpong dan lalu berubah lagi menjadi kupu-kupu yang indah. Ketika masih berwujud ulat, makannya hanya daun, sehingga merugikan orang lain karena dedaunan yang indah menjadi rusak akibat ulah ulat. Tetapi setelah menjadi kupu-kupu, makanannya berupa sari madu. Betapa puasa menahan lapar dan dahaga dapat mengubah seekor ulat yang lamban dan tidak disukai orang, akhirnya menjadi seekor kupu-kupu yang yang indah, lincah, terbang kian kemari mencari bunga-bunga yang berkembang dan banyak di gemari orang. Dengan kata lain , ulat melakukan puasa dengan tujuan yang sangat positif, meningkatkan kualitas diri dan semestinya memang seperti ini. Dari seekor binatang yang terliat jijik, gatal bila dipegang dan menggelikan bila di lihat tiba-tiba menjadi seekor binatang yang enak dipandang dan nyaman untuk dipegang. Ada tujuh kualitas yang dimiliki ulat setelah menjadi kupu-kupu:
1.    Beberapa pasang kaki yang dapat memegang sesuatu dengan kokoh dan trampil
2.    Mata faset yang melihat lebih jernih dan lebih luas
3.    Dua pasang sayap yang overlapping
4.    Sepasang antenna yang handal dan sensitif
5.    Keindahan warna yang beraneka
6.    Motif dan corak sayap yang unik
7.    Mulut dan bulu-bulu halus di perut yang dapat mengangkut benang sari
Beberapa kualitas diatas tidak akan ditemukan pada ulat. Ulat hanya bisa mendapatkan semua kualitas itu setelah menjadi kupu-kupu. Dan semua itu tidak akan terjadi jika binatang ini tidak melakukan ritual puasa.
Lulu kualitas apa yang kita peroleh dengan ibadah puasa yang kita lakukan...? jawabannya kembali kepada diri kita masing-masing.

Wallahu a’lam

Kamis, 18 Juni 2015

PUASA: HARMONI SPRITUALITAS DAN KEMANUSIAAN

Kehadiran bulan Ramadhan (puasa) selama sebulan dalam setiap tahun, merupakan wahana spiritual paling berharga bagi setiap Muslim untuk melakukan pembongkaran atas penjara-penjara hawa nafsu yang mengungkung dirinya, untuk menjadi manusia yang tercerahkan dalam kesejatian dirinya sebagai insan bertakwa (Q.S. al-Baqarah:183). Oleh karena itu, Allah telah menyatakan firma-Nya dalam salah satu Hadits Qudsi, “Setiap amal-kebajikan anak cucu Adam, adalah untuk dirinya, kecuali ibadah puasa, karena puasa itu untuk-Ku, dan hanya Aku yang bisa memberikan balasan yang sesuai”. 
Ibnu Al-Jauzi, menjelaskan makna hadits diatas, dengan menyebutkan bahwa “semua ibadah terlihat amalannya, dan sedikit sekali yang selamat dari godaan sikap riya’, hal ini berbeda dengan ibadah puasa, puasa pada hakikatnya merupakan amalan bathin yang hanya Allah mengetahui kadar dan kualitasnya, dan manjadi amalan yang rahasia Antara seorang hamba dengan Tuhannya.  Jika orang yang sedang berpuasa, janganlah berkata keji dan melakukan petengkaran. Kalau ada yang mencaci maki, atau mengajak berkelahi, katakanlah aku sedang berpuasa (inny shaaimun).  Oleh karena itu, makna puasa bukanlah sekedar meninggalkan makan, minum dan hal-hal fisikal yang membatalkan ibadah puasa, tetapi bersamaan dengan itu, haruslah didasari dengan keikhlasan semata-mata karena Allah, dan untuk hal aspek ini, tidak ada yang tahu kecuali hanya  Allah SWT., sehingga hanya Allah yang bisa memberi balasan sesuai kadar keikhlasan seseorang, tanpa ada batasannya.
Pertautan Antara amalan fisik ritual, dengan amalan bathin dalam pelaksanan ibadah puasa, menjadikan ibadah ini menjadi sesuatu yang sangat special, sehingga maknanya pun sangat tinggi, yang disatu sisi mesti mampu mengasah sifat dan kodrat kemanusiaan yang hakiki untuk membangun dan memperkuat harmoni insani (kemakhlukan) dan di sisi lain, mampu membangun relasi spritualitas dan “kemesraan” dengan Tuhan, semakin kuat.
Para ulama menyebutkan, ibadah Puasa (al-shawm) sebagai oleh jiwa tahunan (riyadhah al-sanawiyah). yakni proses didik diri untuk mengalahkan dominasi nafsu keduaniawian yang secara representative dilambangkang dalam pantangan  makan, minum, dan pemenuhan nafsu biologis. Suatu proses jihad akbar, yakni perjuangan besar seorang Muslim untuk memerangi hawa nafsu yang bercokol dalam dirinya. Rasulullah menyatakan, “bukanlah Puasa kalau sekedar berhenti dari makan, minum, dan memuaskan hawa nafsu seks. Puasa adalah menahan diri dari dusta dan parangai keji”. Puasa sekedar tidak makan,  minum dan memenuhi kebutuhan biologis, menurut sementara ahli sufi, adalah puasa orang awam, merupakan tingkatan paling rendah dari derajat orang berpuasa.
Entri point, dari pelaksanaan ibdah puasa ini, dari aspek ritual agama, orang yang berpuasa melakukan re-humanisasi dari diri seorang Muslim secara individual dan kolektif, sehingga terjadi proses transpormasi kesalehan dalam berbagai dimensi kehidupan, sebagai upaya dalam melakukan harmoni kemanusiaan. Pemaknaan puasa dalam proses re-humanisasi dan transpormasi kesalihan individual, dan keshalehan social sebagai wujud  dari harmoni kemanusiaan itu, tentu saja menuntut upaya reaktualisasi dari pandangan normative puasa sebagai ibadah mahda (ritual) kepada fungsionalisasi esensial yang bersifat objektif atas nilai-nilai ketakwaan dalam keseluruhan kehidupan kemanusiaan sebagaimana tujuan-tujuan utama Puasa.
Proses secara instrnsik ditandai oleh kesadaran internal setiap Muslim untuk melakukan pembongkaran (dekonstruksi) atas penjara-penjara (nafsu) dan ego kemanusiaan yang ada dalam dirinya, bahwa makna kesempurnaan sebagai ciptaan Tuhan yang paling mulia ketimbang makhluk lainnya dimuka bumi ini, hanya bernilai jika dirinya dapat menghargai peran kehambaan dirinya, dalam hubungannya dengan makhluk lain, serta mampu mengfungsikan dirinya sesuai kodrat penciptaannya. “Sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dalam penciptaan yang paling sempurna ciptaan. Lalu kami kembalikan dia pada posisi yang paling rendah. Kecuali mereka yang selalu beriman dan ber amal kebajikan” (Q.S. al-Thin: 4-6).
Sedangkan secara ekstrinsik, Puasa dijadikan wahana bagi usaha membangun solidaritas kemanusiaan yang harmoni dan damai, yang melintasi sekat-sekat yang dapat meruntuhkan persaudaraan kemanusiaan, menuju persaudaraan umat manusia sejagat sebagai insane mulia yang bermatabat sama dihadapan Tuhan.  Harmoni kemanusiaan, dapat ditranspormasikan atau diaktualisasikan oleh Muslim yang berpuasa, adalah terrujudnya kesalihan sosial dalam tata hubungan kemasyarakatan di berbagai segi kehidupan. Sikap toleran, welas asih, empatik, senasib sepenanggungan, memiliki kepekaan social yang tinggi, pemaaf, cinta pada kedamaian, dapat dikembangkan dari makna fungsional ibadah Puasa dalam kehidupan bermuamalah. Ssebaliknya sikap mudah memvonis, memojokan, menghina, menjatuhkan, berseteru, merasa benar sendiri, dan sikap-sikap kerdil lainnya terhadap sesama, jelas berlawanan dengan esensi dan makna fungsional dari nilai ibadah puasa.
Jika setiap destruktif yang naïf ini masih subur dalam diri  Muslim, baik secara individual maupun kolektif, padahal setiap tahunnya selama sebulan ia selalu ibadah puasa, maka puasa yang dilakukannya  itu tidak membuahkan apa-apa, selain rasa lapar dan dahaga. Dan itu berarti kekalahan dan kerugian yang didapatkan seorang Muslim, bukan kemenagan. Dalam kehidupan masyarakat yang kini lebih didominasi corak solidaritas organis (meminjam konsep Emile Durkheim), dimana hubgnan antara sesama lebih didasarkan pada serba kepentingan, merenggang, impersonal, dan berjarak, maka melalui ibadah puasa umat Isalam dapat menarik hubungan sosial yang kebablasan itu ke koridor yang harmoni dengan dasar persaudaraan kemanusiaan, kesamaan, dan keadilan.
Ketika kualitas kesenjagan sosial cendrung menguat antar lapisan sosial, dan orang-orang rentan terealinasi secara struktural dan kultural, umat Muslim melaui ibadah puasanya yang bersifat transpormatif dituntut mengembangkan kepedulian dan solidaritas sosial yang manusiawi sebagai implementasi pesan luhur Nabi “tidak beriman seseorang, jika tertidur nyenyak karena kekayaan, sementara tetangganya dibiarkan kelaparan.”

Wallahu a’lam…

Rabu, 16 Juli 2014

Catatan Kecil yang saya tahu dari pak Quraish Shihab, sepetuar masalah yang ditudingkan orang pada-nya

Saya bersyukur pernah di ajar oleh pak Quraish Shihab, baik secara langsung di bangku kuliah, ataupun tidak langsung lewat telaah buku dan mendengarkan tausiahnya.... Suatu waktu, saat beliau memberi kuliah di kelas kami, kami mencoba menanyakan kepada beliau tentang tafsir surat al-ahzab, ayat 59, dikaitkan dengan pernyataan mantan mentri Agama Munawir Sazdali yang menganggap Jilbab itu tidak wajib.
Beliau memberikan jawaban yang sangat santun, beliau tidak reaktif mengkafirkan orang yang berpendapat tidak wajib Jilbab, beliau mengatakan bahwa yang tahu hakekat ayat sebenarnya hanya pemilik firman, yakni Allah. Jika ada seseorang yang mengklaim pasti tafsirnya benar seauai yang dimaksud Allah, maka dia telah menganggap dirinya "sama" dengan Allah. Karena apa yang kita ucapkan oleh kita sendiri hanya kitalah yang tahu makasudnya. Beliau lalu menjelaskan berbagai tafsir berkaitan dwngan ayat tersebut. Lalu beliau menutup, kalau kita sendiri tdk bisa menjamin bahwa pendapat itulah yang sesuai kehendak Allah, maka untuk amannya sebaiknya kita berjilbab. Karena jika ayat ini tidak bermakna wajb, maka orang yang tdk memakai ataupun yang memakai tidak jadi masalah krn ayat ini tidak melarang memakai jilbab. Namun sekiranya ayat itu disisi Allah bermakna wajib jilbab, maka amanlah dengan memakai jilbab, dan celakalah orang yang tidak menggunakan jilbab.
Demikian sedikit kutipan dari kuliah beliau...
Dan aku menangkap kerendahan hati seorang yang memiliki kedalaman ilmu.

Terkait dengan penjelasan beliau yang dipelintir beberapa media "islam", seperti voa-islam, islammedia, saya ingin mengatakan bahwa d
ari penjelasan Guru Besar Ilmu Tafsir, Dokotor pertama bidang Tafsir pada Univ. Al-Azhar, dari Indonesia, bapak Prof. Dr. Muh. Quraish Shihab, saat menjelaskan salah satu hadits Rasul terkait apakah ada "jaminan" Allah terhadap seseorang masuk surga karena kebaikan amalnya. Ada beberapa pelajaran yang dapat diambil:
1. Pak Quraish menegaskan dirinya sebagai penganut aqidah sunni (ahlu sunnah wal jama'ah). Karena bagi sunni, persoalan masuk surga, adalah kewenangan mutlak Allah, kita beribadah dan mengabdi kepada Allah hanya mengharapkan ridho dan rahmat-Nya. Jika kita diridhohi dan dirahmati Allah, maka kita akan dimasukkan ke surga-Nya. Bagaimanapun besarnya amal perbuatan kita, belum sebanding dengan nikmat yang diberikan kepada kita. Konsep ini berbeda dengan pemahaman mu'tazilah, yang memberikan beban "wajib" bagi Allah membalas kebaikan hambanya.
2. Dengan hadits ini pak Quraish ingin menegaskan, bahwa manusia sealim, sekhusuk, sebaik dan sehebat apapun dia, dia tidak memiliki otoritas untuk mengatakan dirinya paling benar ke-Islamannya, paling dekat dengan Allah, paling tahu "isi hati" (maksud) Allah dan paling pantas masuk surganya, sedangkan kelompok atau orang yang tidak sefaham dengannya, ke-Islamannya belum "kaffah", dan jauh dari surga Allah.
Dalam hadits tersebut nabi menjadikan dirinya (orang yang paling baik, benar, mulia akhlaq dan prilakunya, dirinya menjadi tafsir hidup al-Qur'an, dst.), sosok yang tidak mendapat jaminan dirinya pasti masuk surga, dengan mengatas namakan Allah karena kebaikan-kebaikannya. Salah satu jaminan yang disampaikan rasul dalam hadits ini yang disebutkan pak Quraish, adalah jaminan mendapat "rahmat" dari Allah.
Yang mendengar penjelasan awal pak Quraish, lalu mematikan TV-nya, atau menutup telinganya dan mengunci hatinya, tidak akan "mendengar" penjelasan ini, lalu berteriak seperti orang mabuk...
3. Masyarakat kita, adalah masyarakat yang terbiasa dengan "atribut" kebaikan, keshalehan, keislaman yang dipertontonkan. Orang yang dianggap khusyu dan diterima sholatnya saat jidatnya hitam, sempurna keislamannya saat memanjangkan janggot, memakai sorban, menggunakan celana di bawah lutut, menggunakan kata (idiom) Arab, dan menghindari kata yang dianggap produk barat, dst... Lalu kadang mengabaikan subtansi ajaran agama yang damai, kasih-sayang, tidak saling menghujat, tidak mencari-cari aib saudaranya, tidak menebar fitnah, tidak sombong dengan kebaikan kecil yang dilakukan, tidak curang, tidak korup, tidak "menjual" ayat Tuhan untuk hasrat dirinya, dst....
Hadits yang disampaikan pak Quraish, untuk mengingatkan kita semua...


---- wallahu a'lam ----

Kamis, 30 Mei 2013

HIKAYAT AMBO DALLE "SANG ULAMA ASAL BUGIS"


@SUARA MEDIA
Kemunduran umat Islam Indonesia yang kita lihat dan alami saat ini tidak lain dan tidak bukan disebabkan oleh para pemimpin dan tokoh-tokoh Islam yang kurang memerhatikan metode pendidikan dan seni dakwah serta tidak menggunakan senjata berupa sumber daya manusia dan dakwah sebagaimana seharusnya. Dengan kata lain, umat membutuhkan keteladanan dan ulama serta pemimpin bangsa.

Dalam bukunya yang berjudul Anregurutta Ambo Dalle: Mahaguru dari Bumi Bugis, HM Nasruddin Anshoriy Ch mengungkapkan, sangat sedikit para pemimpin dan tokoh Islam saat ini yang mampu melakukan kerja keras di bidang pendidikan, menebarkan kasih sayang kepada segenap umat dengan jalan silaturahim, serta berjihad dengan indah melalui jalan dakwah untuk mengajak masyarakat ke jalan benar, lurus, dan lempang sebagaimana yang telah dilakukan sosok mahaguru dari bumi Bugis bernama Abdurrahman Ambo Dalle.

Keteladanan ini pula yang dilakukan Ambo Dalle dalam menebarkan Islam dan kasih sayang kepada umat Islam di Sulawesi Selatan dan murid-muridnya.

Penikmat novel trilogi Laskar Pelangi karya Andrea Hirata tentu masih ingat dengan apa yang dilakukan Lintang, seorang anak nelayan yang harus mengayuh sepeda sejauh 40 kilometer agar bisa menuntut ilmu di SMP Muhammadiyah, Belitong.

Seperti itulah yang dilakukan Ambo Dalle. Ulama asal Sulawesi Selatan ini mengayuh sepedanya sejauh 35 kilometer demi mengajar murid-muridnya dan menemui umatnya untuk berdakwah. Ambo Dalle menunjukkan keteladanan seorang pemimpin dalam mengayomi dan melayani umat. Masihkah ada pemimpin dan ulama seperti Ambo Dalle saat ini?

Anregurutta (guru--Red) Abdurrahman Ambo Dalle dilahirkan dari keluarga bangsawan, sekitar tahun 1900, di sebuah desa bernama Ujung yang berada di Kecamatan Tanasitolo, sekitar tujuh kilometer sebelah utara Sengkang yang merupakan ibu kota Kabupaten Wajo. Ayahnya bernama Puang Ngati Daeng Patobo dan ibunya bernama Puang Candara Dewi.

Kedua orang tuanya memberi nama Ambo Dalle yang berarti bapak yang memiliki banyak rezeki. Orang tuanya mengharapkan dirinya agar kelak hidup dengan limpahan rezeki yang cukup. Adapun nama Abdurrahman diberikan oleh seorang ulama setempat bernama KH Muhammad Ishak pada saat berusia 7 tahun dan sudah dapat menghafal Alquran.

Menuntut ilmu
Pada masa kecilnya, Ambo Dalle mempelajari ilmu agama dengan metode sorogan (sistem monolog), yaitu guru membacakan kitab, sementara murid mendengar dan menyimak pembicaraan guru. Pelajaran membaca dan menghafal Alquran ia peroleh dari bimbingan bibi serta kedua orang tuanya, terutama sang ibu. Agar lebih fasih membaca Alquran, Ambo Dalle belajar tajwid kepada kakeknya, Puang Caco, seorang imam masjid yang fasih membaca Alquran di Desa Ujung.

Selama menuntut ilmu, Ambo Dalle tidak hanya mempelajari ilmu-ilmu Alquran, seperti tajwid, qiraat tujuh, nahwu, sharaf, tafsir, dan fikih saja, tapi ia juga mengikuti Sekolah Rakyat(Volk School) pada pagi hari serta kursus bahasa Belanda pada sore hari di HIS Sengkang dan belajar mengaji pada malam harinya.

Sementara itu, untuk memperluas cakrawala keilmuan, terutama wawasan modernitas, Ambo Dalle lalu berangkat meninggalkan Wajo menuju kota Makassar. Di kota ini, ia mendapatkan pelajaran tentang cara mengajar dengan metodologi baru melalui Sekolah Guru yang diselenggarakan Syarikat Islam (SI). Pada saat itu, SI yang dipimpin oleh HOS Cokroaminoto berada dalam masa kejayaan dan benar-benar membuka tabir kegelapan bagi wawasan sosial, politik, dan kebangsaan di seluruh Tanah Air.

Ketika mengikuti sekolah guru di Makassar inilah, ia menemukan kehidupan sosial yang lain dan jauh berbeda dari tanah Wajo yang masih sepi. Makassar, yang saat itu telah menjadi sebuah kota pelabuhan terpenting di kawasan Indonesia Timur, ramai disinggahi oleh kapal besar dan perahu dari berbagai penjuru yang memuat barang-barang dagangan. Beraneka ragam barang niaga, seperti beras, kelapa, hasil hutan, dan kain tenun sutera, ditawarkan orang-orang di pasar-pasar.

Ketika kembali ke Wajo, Ambo Dalle semakin matang secara keilmuan ataupun wawasan. Karena itu, ia bertekad untuk mencerdaskan putra-putri bangsa, khususnya di daerahnya sendiri. Selain kegiatan rohani dengan pendalaman spiritual yang menjadi gairah hidupnya sehari-hari, kegiatan fisik juga tidak diabaikannya. Misalnya, ia selalu aktif berolahraga. Olahraga yang paling digemarinya adalah sepak bola. Ambo Dalle terkenal sebagai seorang pemain bola yang andal. Karena keahliannya dalam menggiring dan mengolah si kulit bundar, rekan-rekannya menjuluki Ambo Dalle sebagai 'Si Rusa.'

Selain itu, Ambo Dalle terus menambah ilmunya, terutama dalam ilmu agama. Ia pun belajar kepada ulama-ulama asal Wajo yang merupakan alumni Makkah, seperti H Syamsudin dan Sayyid Ali al-Ahdal. Para ulama asal Wajo ini bermaksud membuka pengajian di kampung halaman mereka.

Merintis madrasah
Salah seorang guru Ambo Dalle, yakni Gurutta H As'ad, suatu ketika menguji secara lisan murid-muridnya, termasuk Ambo Dalle. Ternyata, jawaban Ambo Dalle dianggap yang paling tepat dan benar. Maka, sejak saat itu, ia diangkat menjadi asisten dan mulai meniti karier mengajar serta secara intens menekuni dunia pendidikan.

Berkat kerja sama antara Gurutta H As'ad dan Ambo Dalle, pengajian itu bertambah maju. Hal tersebut terdengar sampai ke telinga Raja Wajo saat itu, Arung Matoa Wajo. Arung Matoa Wajo pun memutuskan mengadakan peninjauan langsung ke tempat pengajian milik Gurutta H As'ad. Dalam kunjungannya, Raja Wajo ini meminta agar Gurutta H As'ad membuka sebuah madrasah yang seluruh biayanya ditanggung pemerintah setempat. Gayung bersambut. Maka, tak lama kemudian, dimulailah pembangunan madrasah.

Madrasah yang dibangun ini menyelenggarakan jenjang pendidikan awaliyah (setingkat taman kanak-kanak), ibtidaiyah (SD), dan tsanawiyah (SMP). Lembaga pendidikan itu diberi namaAl-Madrasah al-Arabiyah al-Islamiyah (disingkat MAI) Sengkang. Lambangnya diciptakan oleh Ambo Dalle dengan persetujuan Gurutta H As'ad bin Abdul Rasyid dan ulama lainnya. Dalam waktu singkat, popularitas MAI Sengkang dengan sistem pendidikannya yang modern (sistem madrasah) menarik perhatian masyarakat dari berbagai daerah.

Selanjutnya, atas izin sang guru, Ambo Dalle pindah dan mendirikan MAI di Mangkoso pada 29 Syawal 1356 H atau 21 Desember 1938. Mulai saat itulah, ia mendapat kehormatan penuh dari masyarakat dengan gelar Gurutta Ambo Dalle. MAI Mangkoso ini kelak menjadi cikal bakal kelahiran organisasi pendidikan keagamaan bernama Darud Dakwah Wal Irsyad (DDI).

Sementara itu, sepeninggal Gurutta H As'ad, MAI Sengkang diubah namanya menjadi Madrasah As'adiyah. Perubahan nama tersebut sebagai bentuk penghormatan atas jasa-jasa Gurutta H As'ad.

Berkat dukungan dan simpati dari pemerintah dan masyarakat Mangkoso, pertumbuhan dan perkembangan madrasah yang dipimpin oleh Ambo Dalle ini sangat pesat. Hal ini terbukti dengan banyaknya permintaan dari luar daerah untuk membuka cabang MAI Mangkoso. Untuk merespons permintaan itu, dibukalah cabang MAI Mangkoso di berbagai daerah.

Zaman Jepang
Namun, masalah mulai mengintai ketika Jepang masuk dan menancapkan kuku-kuku imperialis di bumi Sulawesi Selatan. Proses belajar dan mengajar di madrasah ini mulai menghadapi kesulitan karena Pemerintah Jepang tidak mengizinkan pengajaran seperti yang dilakukan di madrasah.

Untuk mengatasi masalah ini, Ambo Dalle tidak kehilangan siasat. Ia pun mengambil inisiatif. Pelajaran yang sebelumnya dilakukan di dalam kelas dipindahkan ke masjid dan rumah-rumah guru. Kaca pada bagian pintu dan jendela masjid dicat hitam agar pada malam hari cahaya lampu tidak tembus ke luar. Setiap kelas dibagi dan diserahkan kepada seorang guru secara berkelompok dan mengambil tempat di mana saja asal dianggap aman dan bisa menampung semua anggota kelompok. Sewaktu-waktu, pada malam hari dilarang menggunakan lampu.

Bukannya sepi peminat, justru siasat yang dilakukan Ambo Dalle ini mengundang masyakarat sekitar untuk mendaftarkan anak-anak mereka belajar di madrasah milik Ambo Dalle. Bahkan, cara yang ditempuhnya ini membuat madrasah tersebut luput dari pengawasan Jepang. berbagai sumber ed:sya

Membangun Benteng Tauhid

Setelah beberapa tahun memimpin MAI Mangkoso, Anregurutta Abdurrahman Ambo Dalle dihadapkan pada kondisi bangsa Indonesia yang sedang dalam masa merebut dan mempertahankan kemerdekaan. Gema perjuangan bergelora di seluruh pelosok Tanah Air.

Melihat kondisi ini, Ambo Dalle terpanggil untuk membenahi sistem pendidikan yang nyaris terbengkalai. Ia sadar, selain bertempur melawan penjajah dengan senjata, berperang melawan kebodohan pun sama pentingnya. Sebab, kebodohanlah salah satu yang menyebabkan Indonesia terbelenggu dalam kolonialisme selama berabad-abad.

Namun, usaha yang dirintis Ambo Dalle ini sempat mengalami kendala ketika terjadi Peristiwa Korban 40 Ribu Jiwa di Sulawesi Selatan. Tentara sekutu (NICA) di bawah komando Kapten Westerling mengadakan pembunuhan dan pembantaian terhadap rakyat Sulawesi Selatan yang dituduh sebagai ekstremis.

Peristiwa tersebut membawa dampak bagi kegiatan MAI Mangkoso. Banyak santri, yang ditugaskan oleh Ambo Dalle untuk mengajar di cabang-cabang MAI di berbagai daerah, menjadi korban keganasan Westerling. Namun, situasi itu tidak menyurutkan semangat beliau untuk mengembangkan MAI.

Bahkan, dalam situasi seperti itu, bersama beberapa ulama alumni MAI Sengkang, ia mengadakan pertemuan alim ulama se-Sulawesi Selatan di Watang Soppeng pada 16 Rabiul Awal 1366 H/7 Februari 1947. Pertemuan itu menyepakati pembentukan organisasi yang diberi nama Darud Dakwah Wal Irsyad (DDI) yang bergerak dalam bidang pendidikan, dakwah, dan sosial kemasyarakatan. Ambo Dalle kemudian ditunjuk sebagai ketua dan Anregurutta HM Abduh Pabbajah sebagai sekretaris organisasi.

Meski disibukkan memimpin organisasi dan madrasah, Ambo Dalle tidak melalaikan kewajibannya sebagai warga negara yang taat. Ia bersama KH Fakih Usman dari Departemen Agama (Depag) Pusat dipercayakan oleh Pemerintah RI untuk membenahi dan merealisasi pembentukan Departemen Agama wilayah Sulawesi. Tugas itu dapat dilaksanakannya dengan baik. Kepala Depag yang pertama diangkat adalah KH Syukri Gazali, sedangkan Ambo Dalle diangkat menjadi kepala Kantor Urusan Agama Kabupaten Pare Pare pada 1954.

Menurut Prof KH Ali Yafie, salah seorang santri Ambo Dalle, apa yang telah dilakukan oleh gurunya itu selama berpuluh-puluh tahun di bumi Bugis pada khususnya dan bumi Sulawesi pada umumnya adalah sebuah gerakan pembaruan membangun benteng tauhid. Dengan kata lain, yang dikembangkan Ambo Dalle melalui program dakwah, pendidikan, sosial, dan kebudayaan tersebut sesungguhnya bagian dari jihad, ijtihad, dan mujahadah untuk membangun 'budaya tauhid'.

Keteguhan sikap Ambo Dalle tak lekang di setiap peristiwa dan pergolakan yang ia lalui dalam perjalanan hidupnya. Ketika terjadi pemberontakan G-30 S/PKI, Ambo Dalle yang ketika itu berdomisili di Pare Pare tak bergeming dan tetap kukuh dengan prinsip dan keyakinannya. Pada waktu itu, dia berpesan kepada santrinya agar tetap berpegang teguh pada akidah Islam yang benar, jangan terpengaruh dengan gejolak yang terjadi dalam masyarakat.

Kitab karyanya
Sebagai seorang ulama, Ambo Dalle banyak mengupas berbagai persoalan yang menyangkut hampir semua cabang ilmu agama dalam karya-karya tulisnya. Di antaranya adalah tasawuf, akidah, syariah, akhlak,balaghah, dan mantik. Semua itu tercermin lewat karangan-karangannya yang berjumlah 25 judul buku.

Salah satu karyanya yang dikenal luas adalah kitab Al-Qaulu as-Shadiq fi Ma'rifati al-Khalaqi yang memaparkan perkataan yang benar dalam mengenali Allah SWT dan tata cara pengabdian terhadap-Nya. Menurutnya, manusia hanya dapat mengenal hakikat pengadian kepada Allah jika mereka mengenal hakikat tentang dirinya.

Untuk mengagungkan Allah, tidak hanya berbekal akal logika, tapi juga dengan melakukan zikir yang benar sebagai perantara guna mencapai makrifat kepada Allah. Meskipun, harus diakui bahwa logika harus dipergunakan untuk memikirkan alam semesta sebagai ciptaan Allah SWT. Dalam berzikir, harus dilakukan sesuai dengan dalil-dalilnaqli (Alquran dan hadis). Yakni, dilakukan dengan hati, istikamah, dan tidak boleh goyah.

Pendirian dan sikap akidah tercermin dalam kitab Ar-Risalah Al-Bahiyyah fil Aqail Islamiyah yang terdiri atas tiga jilid. Keteguhan pendiriannya tentang sesuatu yang telah diyakini kebenarannya tergambar dalam kitabnya Maziyyah Ahlu as-Sunnah wa al-Jama'ah.

Yang membahas bahasa Arab dan ushul-ushul-nya tertulis dalam kitab Tanwiru at-Thalib, Tanwiru at-Thullab, dan Irsyadu at-Thullab. Ilmu balaghah (sastra dan paramasastra) dibahas dalam karyanya yang berjudul Ahsanu al-Uslubi wa-Siyaqah, Namuzajul Insya'i, yang menerangkan kosakata dan cara penyusunan kalimat bahasa Arab. Kitab Sullamu al-Lughah menerangkan kosakata, percakapan, dan bacaan.

Beliau juga mengarang pedoman berdiskusi dalam bahasa Arab, yakni kitab Miftahu al-Muzakarah dan tentang ilmu mantik (logika) dalam kitab Miftahu al-Fuhum fi al-Mi'yarif Ulum. (Republika)

Disadur ulang oleh: Fathoel Fatul 

Selasa, 21 Mei 2013

Diskusi dengan Kakanda Helmi Ali Yafie-3


Manusia adalah anak Jamannya

Adik-adik saya, Manusia dan atau generasi adalah produk dari zamannya, dengan demikian, untuk memahami karakter dan model kepemimpinan yang ditampilkan oleh sebuah generasi, tidak lepas dari bentukan peristiwa, system, kebijakan yang terjadi pada masa/fase “bentukan” generasi tersebut. Politik, system, kebijakan yang dilakukan pada masa orde baru, dimana semua aspek diharapkan menggunakan  dan melalui “satu” system yang direstui, sebagai contoh:
Agama  yang diakui hanya 5, selain yang 5 (lima), diangap agama yang tidak “legal”.
Kondisi yang multi partai, dimarger (fusi) menjadi tiga partai politik (Golkar, PPP dan PDI), selain itu tidak ada peluang untuk membentuk partai lain. Bahkan, cenderung, selain Golkar, diangap sesuatu yang tidak sejalan dengan pemerintah.
Ormas Kepemudaan disatukan dalam KNPI
Pemikiran para ulama, dibonsai dalam pandangan keagamaan yang dicetuskan oleh MUI, dst…
Kondisi ini melahirkan pandangan, bahwa yang benar itu adalah yang mendapat “restu”. Dengan demikian, mereka yang mungkin bisa besar dan menjadi tokoh pada sebuah komunitas atau kelompok, hanyalah mereka yang mendapat restu dan dukungan dari system yang ada.
Generasi yang lahir dari kondisi ini, melahirkan pandangan, bahwa hanya yang memiliki “cantolan” seseorang bisa menjadi besar.
Ketika kondisi sosial-politik berubah, dimana kran kebebasan mulai terbuka, dan setiap orang mulai “bisa” mengekspresikan keinginan dan kehendaknya, maka kesadaran generasipun mulai muncul, bahwa setiap orang bisa menjadi besar dan atau menjadi tokoh, tanpa harus menyandarkan pada “cantolan”, tetapi lebih pada kualitas, integritas, relasi dan kemampuan individu seseorang. 

Menyoal Tentang Perlunya Identitas ke-DDI-an



Pada dasarnya NU, Muhammadiyah, DDI, al-Washiliyah, Nahdhatul Wathan, al-Wahda al-Islamiyah, Hizb al-Tahrir dan seterusnya... adalah wadah berkumpul, wadah untuk mengembangkan aktifitas Da'wah, Pendidikan dan aktifitas sosial, wadah kaderisasi, dst...... Dalam perkembangannya -- dilihat dari aspek pemahaman keagamaan -- organisasi dan lembaga itu dikategorisasikan dalam beberapa pandangan, misalnya organisasi yang lebih banyak menggunakan pendekatan tekstual, ada yang benyak menggunakan tafsir rasional, atau yang mencoba mendialogkan teks-teks agama dengan budaya lokal, dst... 
Dari sisi pandang ini, DDI kadang dikategorikan memiliki cara pandang yang sama dengan cara pandang yang dianut oleh NU, Nahdhatul Wathan. Dan karena kesamaan pandangan inilah, kadang membuat anggapan bahwa DDI sama dengan NU.
Secara kelembagaan (organisatoris), DDI tidak ada kaitan dengan NU, Mungkin saja, karena banyak tokoh-tokoh kita yang aktif di NU, meski beliau juga adalah tokoh yang besar di DDI. 
Sekedar Contoh Gurutta KH. M. ALi al- Yafie, Beliau adalah Katib (I Wakil Sekjend) pertama DDI, dan beliaulah yang menerjemahkan ANggaran Dasar Pertama DDI dari Bahasa Arab yang dirulis oleh Gurutta KH. Muh. Abduh Pabbaja sebagai Katib (Sekjend) pertama DDI. Tetapi ketika beliau ke Jakarta, beliau banyak aktif di NU, dan sebagai tokoh Nasional, beliau lebih dikenal sebagai tokoh NU, ketimbang tokoh DDI. Demikian Juga dengan Gurutta KH. Muh. Amin Nashir. Dan di Sulsel, KH. Sanusi Baco, lebih dikenal sebagai ketua NU (representasi NU), ketimbang sebagai tokoh DDI, dst…
Di sisi lain, keberadaan bapak Prof. Muiz Kabry di Kepengurusan puncak DDI, yang secara formal, beliau mengenyam Pendidikan SMP DDI di Ujung Baru Parepare, Lalu masuk ke PGA ikatan dinas di Makassar, kemudian lanjut ke Pacet Jabar dan Malang Jatim..., beliau selama di Pacet dan Malang adalah tokoh yang aktif di PMII, bahkan termasuk penandatangan Deklarator Murnajati (Piagam Independensi PMII), sebuah organisasi kemahasiswaan yang lahir dari rahim IPNU (Banom NU), meski selama di Sulsel, tidak pernah aktif di Pengurus NU Sulsel, tetapi dia tidak bisa dipisahkan kedekatannya dengan tokoh-tokoh NU tingkat Nasional, bahkan sejak kepengurusan KH. Hasyim Muzadi, beliau dimasukkan sebagai bagian dari Pengurus PB NU. Demikian halnya dengan kita-kita generasi yang dibelakangpun, kemudian banyak ikut dan terlibat dalam organisasi diluar DDI yang memiliki hubungan historical dengan NU.
Sekedar “menengok kebelakang”, dalam Muktamar Tahun 1969 di Wt. Soppeng, Beberapa tokoh DDI sudah mulai terpolarisasi antara kelompok yang aktif di NU, dan mereka yang aktif di SI/PSII, dan dalam Muktamar tersebut, kelompok yang aktif di NU (Partai NU), berhasil menggolkan model lambang DDI, yang menggunakan Tali, mirip dengan tali di lambang NU.....
Fakta-fakta itulah yang mungkin mengaburkan pandangan orang antara NU dan DDI,  Bahkan DDI dianggap bagian dari NU, seperti pandangan orang terhadap Nahdhatul Wathan di NTB dengan NU.
Tetapi untuk tingkat Sulsel, yang harus kita fahami, bahwa NU masuk di Sulsel, ketika NU menjadi Parpol tahun 1955, dan itu berarti sebelum NU masuk DDI sudah ada dan berkembang, sehingga semestinyalah DDI lebih “kakak” dari NU …untuk konteks Sulsel...
Saya juga ingin mengatakan (mungkin debateble), tanpa maksud mengecilkan penghormatan dan penghargaan kita kepada guru-guru kita, bahwa mereka "lupa" melakukan interpertasi dan kontekstualisasi dari nilai-nilai yang difahami, dilakonkan oleh Gurutta... menjadi sebuah Nilai Dasar Perjuangan (NDP) DDI yang dikemas dalam teks yang memungkinkan dapat dipelajar, dibaca dan diterjemahkan oleh generasi yang datang kemudian (seperti kita-kita) dalam konteks kehidupan kita…. Harus Jujur diakui, konsep Tirologi DDI (Da'wah, Pendidikan dan Usaha Sosial), adalah satu-satunyanya konsep yang ada yang dibuat dan diinterpertasi oleh Prof. Muiz Kabry, sebagai pembacaan beliau terhadap nilai yang diajarkan oleh gurutta..., tetapi bagaimana wujud, arah, nilai, konsep, dari Triologi tersebut, kita tidak menemukannya.
Dalam Buku Ke DDI-an yang kami buat bersama Tim, Saya mencoba mengeksplorasi makna dari Triologi Tersebut…., tetapi harus saya akui itu sangat dangkal, dan membutuhkan kajian lebih mendalam dan lebih jauh... Tentang Apa itu Pendidikan, Dakwan dan Usaha Sosial... 
Jadi dari aspek Konsep sendiri kita belum selesai... Misalnya ketika bicara tentang pendidikan, pendidikan dalam bentuk apa, dan nilai apa yang mesti dikembangkan sebagai kerangka dasar semangat ke-DDI-an kita, demikian juga dalam hal Dakwah... Filosofi da'wah yang dianut, kan tidak pernah terbakukan, apa lagi ketika bicara usaha sosial... Apa sih yang dimaksud dengan usaha sosial dalam kontes DDI. Sekali lagi kita belum merumuskannya.
Akhirnya, kita lebih banyak membawa tafsir-tafsir tentang itu dari apa yang kita peroleh diluar organisasi DDI, dan yang memungkinkan untuk kita "modifikasi", adalah model yang ada di NU, sehingga diakui atau tidak, warna ke-DDI-an kita, adalah masih kelihatan “ke-NU-NU-an…
Ini belum kita bicara tentang DDI sebagai gerakan Sosial, DDI sebagai sebuah Organisasi, dst…

Saiful

Senin, 13 Mei 2013

Sekolah dan Kelas Unggulan....???

Dengan alasan untuk memberikan layanan yang maksimal kepada anak (siswa/murid) yang memiliki kemampuan di atas rata-rata siswa lainnya, maka diluncurkan model sekolah dan atau kelas unggul. Siswa yang dipandang pintar, ditempatkan dikelas unggulan, dengan menggunakan istlah kelas I-A, atau semcamnya.
Tetapi realitasnya, tindakan (program) ini, justru mengajarkan sebuah nilai yang ternyata tidak ramah bagi anak, bahkan bisa menjadi benih munculnya sikap sombong, angkuh, merasa lebih hebat dan baik dari teman-teman yang lain, dst.... 
Sebaliknya, anak yang duduk di kelas I-F, akan selalu merasa rendah, bodoh, tertinggal dari yang lain...
Hemat saya..., mungkin saatnya mengganti penggunaan nama kelas I-A.... I-F, dengan nama lain, seperti kelas I-al-Razi..., kelas I-Ibnu Rusydi (misalnya), dengan harapan, mereka tidak terkotak lagi pada istilah unggul, dan dari aspek lain dengan menggunakan nama ilmuan, mereka dapat lebih mengkaji dan menemukan nilai-nilai kebajikan dan kelebihan dari para ilmuan tersebut...

Diskusi dengan Kakanda Helmi Ali Yafie-2

Nasihat Kakanda Helmi Ali kepada generasi muda:
Ketiga: Tawaran Model Suksesi di Ormas NU-DDI

Sistem domokrasi yang saat ini menuju kepada kepemimpinan prifat dan kolektifitas akan didorong pada persaingan individual yang tajam dimana kekuatan persaingan cukup kental yaitu pendekatan :
1. Keluarga, kelompok ataupun grup.
2. Modal atau keuangan pribadi pemimpin.
3. Konsepsi kepemimpinan dan ideology kepemimpinan.
Mau tidak mau suka ataupun tidak suka pemimpin Indonesia mendatang harus memiliki tiga kepeloporan hal tersebu, karena money politik bukan jaminan untuk memenangkan kompetisi, Ikatan kekeluargaan yang kuat pun tidak menjamin, apalagi hanya sekedar tawaran konsepsual.
Karena masyarakat dan pemerintah dalam stakeholder pemerintahan harus menghadapi transisi dari demokrasi continental adopsi pemerintahn belanda yang multi partai dan proporsional menuju system perorangan yang bersifat distrik menuju bipartai model Anglo sactions model Amerika Serikat.
Kondisi perkembangan demokrasi dalam praktek perpolitikan seperti ini, ternyata juga sdh masuk kedalam system suksesi (pergantian kepemimpinan) dalam tubuh Organisasi Sosial, Organisasi Keagamaan dan Kemasyarakatan di negeri ini. Kita tidak bisa menutup manat terhadap perhelatan Kongres, Muktamar, Konfrensi, atau apapun namanya, persaingan individu yang tajam untuk menduduki posisi tertentu menjadi hal yang tidak bisa disangkal, dan kadang (tidak sedikit), persaingan tajam tersebut, berakhir dengan perpecahan organisasi.
Muktamar NU 29 di Cipasung, tahun 1995, yang memperhadapkan antara kubu Gus Dur dan Kubu Abu Hasan, kemudian berakhir dengan kekalahan Abu Hasan… tetapi ceritanya tidak sampai disitu, Abu Hasan lalu membentuk NU tandingan, dengan berbagai alasan dan pembenaran.
Di DDI pun, peristiwa itu terjadi, ketidak puasan terhadap figure yang terpilih, dengan berbagai alasan dan pembenaran, akhirnya melahirkan kubu DDI Muiz Kabri dan DDI Faried Wajdi.
Kita tidak ingin dan akan membahas tentang siapa benar dan salah, karena masing-masing punya alasan pembenaran, yang kita ingin coba ketengahkan, adalah, sudah tepatkan untuk Ormas Keagamaan atau ormas sosial kemasyarakat lain dalam konteks masyarakat kita saat ini untuk melakukan suksesi dengan model vote (one delegation one vote), mengapa tidak digagas model musyawarah-mumafakat, yang kemungkinan untuk tidak saling mencinderai dalam system suksesinya ?
Bukankah model itu juga diakui sebagai bentuk demokrasi yang diwariskan oleh budaya dan para pendahulu kita ?
Mungkinkah ini bisa digunakan dalam Muswil NU Sulsel di Padang Lampe Pangkep, atau pada Muktamar DDI tahun 2014 mendatang ?
Tentu jawabannya membutuhkan diskusi yang lebih intens, membutuhkan kajian system dan mekanisme yang lebih rapi,
Tetapi prinsipnya, kita menginginkan suksesi yang terjadi, tidak saling mencinderai, tidak saling menegasikan, tetap memelihara fatsun dan etika keagamaan (tidak ada politik uang, dst…) Karena sebenarnya, itu adalah bentuk investasi terhadap keruntuhan organisasi…
Kak Helmi, mohon dikoreksi dan disempurnakan..



Helmi Ali ya, saya risau melihat perkembangan ormas2 yg ada, terutama dlm ormas dimana saya dibesarkan; ada kecenderungan meninggalkan esensinya (rohnya) sebagai organiasi sosial keagamaan atau organisasi pendidikan dan da'wah .. beberapa prinsip (saling mendahulukan, penghargaan kepada guru, rendah hati, ikhlas, dsb, mengabdi untuk kepentingan umat/jama'ah) tampaknya ditinggalkan dan dg alasan modernisasi.. nilai2 baru diadopsi, termasuk demokrasi, yg ternyata, lebih menonjolkan prosedur, mementingkan kecepatan (mengambilkan keputusan) ketimbang mempertimbangak aspirasi .. pokoknya karak terorganisasi berubah .. cara bekerjanya kurang lebih sama dengan parpol; itu paling tampaknya nyata dalam konfrensi atau muktamar; yg lebih mementingkan membicarakan soal siapa yg akan memimpin; dg kwalifikasi utama hubungan dengan kekuasaan, bukan krn kapasitasnya sebagai pemimpinan/guru umat; dan proses pemilihannya, ya dengan cara demokrasi, yg ternyata rawan banget dengan manipulasi. Dari sini saja sudah keliahatan betapa sebenarnya nilai dasar organisasi sdh ditinggalkan. Oleh karena itu, saya kemudian berpikirknp kita tidak mencoba kembali ke nilai2 dasar itu .. kenapa tdk mencoba melihat kembali esensi dan karakter organisasi itu (organisasi sosial keagamaan atau organisasi pendidikan dan da'wah) .. kenapa tidak mencoba kembali ke cara2 musyawarah .. ketika membicarakan sesuatu yg menyangkut kepentingan bersama, teramsuk dlm memilih pemimpin .. dengan merunjuk kpd nilai2 dasar itu .. atau kalau nilai2 dasar itu .. roh itu .. sudah dianggap tdk lagi memadai .. untuk menjadi landasan dan motor penggerak organisasi, tentu boleh diganti, konsekwensi organisasi hrs berganti nama, tampil sebagai organiasi baru .. yg boleh jadi tidak memiliki lagi ikatan (sejarah) dg yg lama (krn barangkali memang tdk ada ketersambungan ... hehe2 .. sori kepanjangan; oh, soal penyebabnya keadaan organisasi berkembang seperti sekarang, kita bisa lihat pada point ketiga ..